|
H. Ridwan Mukti, Bupati Musi Rawas Target Menjadi yang Tertinggi Banyak yang berubah di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Rawas, sejak H. Ridwan Mukti menjalankan tugasnya sebagai bupati. “Semuanya mesti serba cepat. Pak Bupati sendiri lebih banyak turun ke lapangan. Bisa seharian bahkan sampai malam, karena lokasi yang dikunjungi umumnya jauh,” ungkap Rizal Effendi, Kepala Humas Pemkab Musi Rawas. 
| Ridwan Mukti memang sosok energik dan pekerja keras, yang ingin tahu sampai hal yang detil secara langsung. Kunjungan ke lapangan, sering kali seperti sebuah sidak, berjalan apa adanya tanpa protokoler rumit. Pertanyaan-pertanyaan spontan, kerap terlontar kepada siapa saja, untuk mendapatkan informasi yang akurat.
Lelaki kelahiran Lubuk Linggau, 21 Mei 1963 ini, latar belakang pendidikannya adalah akuntansi, yang diperoleh di Fakultas Ekonomi Universitas Islam (UII) Yogyakarta, dengan predikat cum laude. Lama malang melintang sebagai profesional di sejumlah perusahaan swasta besar, BUMN dan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA). Kemudian terjun ke dunia politik, dan sejak 1999 duduk di DPR/ MPR RI. Pengalaman sebagai profesional, sudah tentu sangat menentukan kompetensi suami Hj. Lisa Nurfadillah ini, untuk mengelola Pemkab Musi Rawas secara profesional, dan memahami keinginan para investor |
Sedangkan pengalamannya di DPR/MPR, banyak memberikan pelajaran tentang proses pembuatan dan penetapan kebijakan publik.
“Ketika menjadi profesional, saya kadang harus menghadapi lingkungan yang kurang kondusif, akibat kebijakan publik yang tidak pas. Tapi saat di legislatif, saya kerap gregetan karena kebijakan bagus yang sudah dirancang dan diputuskan, tidak jalan,” tutur Ridwan Mukti, “Nah sekarang saya di eksekutif, lebih leluasa untuk mengeksekusi sebuah kebijakan.”
Berikut petikan wawancara Majalah PIP dengan ayah dua putra dan tiga putri ini:
Kabupaten Musi Rawas relatif tertinggal dibanding beberapa kabupaten lain di Sumatera Selatan (Sumsel). Angka kemiskinan cukup tinggi, dan desa tertinggalnya lumayan banyak. Sebagai bupati, apa target besar Anda?
Saya ingin membalikkan keadaan itu, secara ekstrim. Musi Rawas kelak justru akan melesat dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas 9 persen. Tidak ada lagi kantung-kantung kemiskinan. Pertumbuhan tinggi itu, mesti berdampak langsung pada meningkatnya kesejahteraan rakyat secara signifikan dan merata. Kalau berkaca pada keadaan Musi Rawas selama ini, mungkin target saya ini terkesan mengada-ada. Tapi sebetulnya tidak. Justru sangat realistis. Musi Rawas memiliki sumberdaya alam (SDA) yang melimpah, dari sektor agraris sampai pertambangan. Ini modal besar untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Asal pemanfaatannya dilakukan secara tepat dan maksimal.
Normalnya, periode kepemimpinan bupati hanya lima tahun. Apakah cukup waktu untuk mencapai target besar itu? Cukup. Tapi speed-nya harus tinggi, di atas rata-rata. Ini yang saya lakukan. Jika, misalnya, di daerah lain kecepatannya rata-rata 60, Musi Rawas saya pacu untuk mencapai 80. Benchmark saya adalah Jakarta. Bukan kota lain termasuk Palembang. Cara kerja orang-orang di sini, harus seperti orang Jakarta. Tidak ada lagi waktu untuk “tidur siang”. Apakah jajaran Anda di Pemkab bisa mengikuti, tidak keteter? Dengan pendekatan yang baik, sejauh ini bisa. Mereka memang jadi lebih capek. Tapi saya katakan, para pendahulu kita, yang berjuang memerdekakan negeri ini, bukan hanya tidak mengenal waktu, tapi juga mengorbankan nyawanya. Nah, kita hanya mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran. Memang capek. Tapi, dari sisi pengorbanan, jelas lebih kecil dibanding para pejuang kemerdekaan kita. Apa yang Anda lakukan pada tahun pertama memimpin Musi Rawas? Tahap pertama, saya lebih fokus pada upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, secara luas. Kebutuhan dasarnya, kita penuhi. Ini penting, agar masyarakat benar-benar siap dengan langkah-langkah strategis yang akan kita lakukan untuk mendorong pertumbuhan. Kalau tidak, kelak mereka hanya jadi penonton saja, bahkan bisa menghambat. Investor pun akan lebih mudah masuk, kalau masyarakat kita sudah siap. Tentu saja, upaya ini saya lakukan secara cepat juga, dari berbagai jalur. Termasuk jalur pendidikan dan kesehatan. Yang paling strategis, adalah membuka akses daerah-daerah yang terisolasi, melalui pembangunan infrastruktur berupa jalan dan jembatan. Penyebab kemiskinan di daerah-daerah itu, bukan semata-mata karena masyarakatnya malas. Tapi, lebih karena mereka terisolasi. Dan ini terbukti. Setelah pembangunan jalan banyak kita selesaikan, dinamika ekonomi daerah itu langsung terangkat. Indikator sederhananya, penjualan kendaraan bermotor di daerah, terus meningkat. Sekarang, secara keseluruhan, tingkat pertumbuhan ekonomi kita sudah menyentuh 7 persen. Bagaimana respons para investor? Misalnya, dulu orang malas membuka atau memperluas perkebunan sawit, karena infrastrukturnya jelek dan ada risiko diganggu oleh masyarakat setempat. Sekarang, hampir setiap hari ada investor yang mengajukan ijin. Bukan hanya di perkebunan, tapi juga sektor lain termasuk pertambangan. Selain jalan, infrastruktur lain yang sedang kita bangun adalah jaringan rel kereta api, terminal peti kemas, jaringan listrik bahkan bandara yang bisa akses langsung ke Jakarta dan kota-kota lain. Ini juga menjadi faktor penting dalam menarik investor. Ke depannya, saya bahkan berani mengundang industri di Jawa untuk melakukan relokasi ke Musi Rawas. Terutama industri yang banyak menggunakan gas, seperti keramik, kaca, pupuk dan sebagainya. Kita tahu, belakangan ini mereka ngos-ngosan karena kesulitan memperoleh gas. Nah, kita punya cadagangan gas yang berlimpah. Sekarang ini, tren industri sudah bergeser. Dulu, cenderung mendekati konsumen, sehingga banyak yang dibangun di Jawa. Sekarang mendekati resources, agar biayanya lebih efisien dan ada jaminan pasokan bahan baku. Resources di Musi Rawas bukan hanya gas. Tapi juga minyak, batu bara dan banyak lagi, termasuk sumberdaya manusia yang sedang kita siapkan. Anda sudah berhasil menarik minat investor dari luar. Bagaimana dengan kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat Musi Rawas sendiri? Tentu saja, ini juga menjadi perhatian besar saya. Secara umum, perekonomian masyarakat di sini berbasis pertanian dan perkebunan. Menurut saya, justru sektor inilah yang sebetulnya prioritas untuk dikembangkan. Sebagian perolehan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pertambangan, akan dialokasikan untuk pengembangan pertanian dan perkebunan. Bagaimanapun, kita tidak bisa selamanya mengandalkan sektor pertambangan, yang kelak akan habis. Dengan begitu proses pembangunan akan berkelanjutan. Pengembangan sektor pertanian dan perkebunan, dilakukan melalui konsep agropolitan center. Berbagai komoditi unggulan pertanian dan perkebunan, akan dikembangkan dengan sentuhan industri. Semuanya dilakukan secara terintegrasi dari kebutuhan budidaya sampai pemasaran. Rencananya, agropolitan center akan berada di lima distrik, yang meliputi beberapa kecamatan. Selain target besar, yang pencapaiannya sekarang sudah mulai kelihatan, sebagai bupati, Anda punya obsesi lain untuk Musi Rawas? Obsesi saya, Musi Rawas menjelma menjadi the exciting of Sumatera. Angka pertumbuhan ekonominya paling tinggi di seluruh Sumatera, dan masyarakatnya sejahtera secara merata. Kemudian, SDM-nya juga unggul, sehingga banyak diserap oleh berbagai lembaga strategis di pusat maupun di daerah, pemerintah maupun swasta. Apa yang kami lakukan sekarang, ibaratnya, sedang membuat fondasi untuk mewujudkan obsesi tersebut. Kita tidak sedang membicarakan Musi Rawas satu atau lima tahun ke depan. Tapi, sepuluh tahun atau lebih ke depan. Setiap pemimpin Musi Rawas, harus mempunyai visi jauh ke depan, menembus batas periode kepemimpinannya. SUmber : http://www.majalah-pip.com/majalah2008/readstory.php?cR=1214137530&pID=22&stID=1071 |