|
Geologi Batubara dan Energi Alternatif |
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Senin, 07 April 2008 05:28 |
Dalam tahun anggaran 2005, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, melalui Tolok Ukur Penelitian Potensi Cekungan Batubara dan Energi Alternatif, telah melaksanakan penelitian oil shale di daerah Musi-Rawas-Asai, Sumatera bagian Selatan. Penelitian yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan pembangunan sektor energi ini, difokuskan pada Formasi Kasiro.
Hasil penelitian sebelumnya, yang telah dilaksanakan di kawasan Sumatera bagian tengah, menunjukkan bahwa runtunan batuan sedimen klastik halus berumur Tersier yang menempati cekungan antar-gunung (intramountain/interarc basin) serta bagian tepi cekungan busur-belakang (back-arc basin) mengandung lapisan oil shale yang cukup potensial, baik cadangannya maupun kandungan minyaknya (> 40 l/t-batuan).
Penelitian oil shale yang dilakukan di Sumatera bagian tengah dan utara pada lima tahun belakangan ini, yakni di daerah Kiliranjau dan Bukit Tigapuluh pada 2000, Kunangan dan Ombilin tahun 2001, Kabanjahe pada 2002, di wilayah Kuansing dan Kebuntinggi tahun 2003, dan pada 2004 di daerah Bukit Susah, memperlihatkan bahwa potensi oil shale di hampir semua daerah tersebut cukup ekonomis. Kondisi ini ditunjukkan oleh kandungan minyak serpihnya (shale oil) dengan kisaran umum dari 22 - 120 l/t.
Untuk lebih mempertegas dan mendukung hasil tersebut di atas, maka Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, dalam rangka pelaksanaan Penelitian Oil Shale tahun anggaran 2005, di bawah Klaster Geologi Batubara dan Energi Alternatif (GBEA), masih melaksanakan penelitian geologi “Kajian Oil Shale”, di kawasan Sumatera bagian selatan, yakni di kawasan aliran S. Rawas dan daerah Batang Asai.
Daerah, yang dikaji pada tahun 2005 ini, mempunyai karakteristik geologi yang hampir sama dengan daerah yang telah diteliti pada lima tahun sebelumnya tersebut di atas. Daerah tersebut terutama ditempati oleh Formasi Kasiro, yang diduga berumur Oligosen – Miosen, dan terdiri dari batuan sedimen klastika halus berwarna gelap mengandung sisipan batubara. Runtunan batuan sedimen tersebut yang dapat diklasifikasikan sebagai oil shale, ditafsirkan terendapkan dalam suatu cekungan intra-mountain dengan lingkungan lakustrin sampai peralihan (Suwarna, 2004), serta diduga berpotensi sebagai immature oil source.
Minyak serpih (shale oil) yang dihasilkan dari pemanasan pada suhu tertentu (retort /penyulingan) terhadap oil shale akan merupakan bahan energi tambahan (additional energy resources), sebagai pendamping bahan bakar minyak bumi yang cadangannya semakin habis
Oil shale (bitumen padat) yang keberadaannya di Indonesia belum banyak diketahui, merupakan batuan sumber minyak bumi yang paling potensial. Oleh karena itu, penelitian rinci tentang oil shale diperlukan guna mencari cadangan energi baru, sebagai pengganti minyakbumi yang cadangannya kian menipis.
Pertimbangan dipilihnya Formasi Kasiro, yang terletak di kawasan Musi-Rawas-Asai, adalah atas dasar bahwa formasi tersebut :
- Runtunan batuannya yang terdiri atas serpih, batulempung, batulanau serta sisipan tipis batupasir dan batubara, serta terendapkan di lingkungan fluviatil – lakustrin (Suwarna & Suharsono, 1984; Suwarna, 2004 a), diduga mengandung lapisan oil shale yang potensial.
- Secara stratigrafi dan tektonik memiliki kemiripan dengan runtunan Formasi Keruh, Formasi Kiliran, dan Formasi Kelesa di daerah Cekungan Sumatera Tengah; serta Formasi Sangkarewang yang menempati Cekungan Ombilin dan Kebuntinggi. Semua formasi tersebut telah diketahui memiliki kandungan oil shale yang cukup berpotensi. Karenanya, runtunan batuan sedimen Formasi Kasiro tersebut juga diduga mengandung oil shale.
- Terendapkan dalam wilayah Cekungan Sumatera Selatan, yang dikenal memiliki potensi hidrokarbon yang cukup besar (4,3 milyar barel minyak mentah), sehingga Formasi Kasiro ini dapat diperkirakan juga mengandung potensi oil shale.
dari http://litbang.grdc.esdm.go.id/litbang_02.php?id_tim=2 |
|
Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 23 April 2008 01:06 |