|
Kabupaten Musi Rawas: Kabupaten Musi Rawas berpotensi untuk menjadi salah satu motor penggerak perkembangan ekonomi di Sumatera. Kekayaan sumberdaya alam yang sebelumnya seperti dibiarkan tertidur, kini siap dimanfaatkan secara maksimal.
Bagaikan kisah Sleeping Beauty, Musi Rawas yang elok dengan sumberdaya alam (SDA) melimpah, lama “tertidur”. Kabupaten yang terbentang di atas tanah seluas 1.236.582,66 hektar ini, perkembangannya nyaris tertinggal di banding kabupaten lain di Sumatera Selatan.
Bicara tentang Musi Rawas, hampir identik dengan kemiskinan, dan banyaknya daerah yang terisolir. Infrastruktur berupa jalan, yang layak dilewati roda empat cuma 24 persen. Sedangkan jaringan listrik, tak lebih dari 42 persen. Usia sekolah pun, baru 6 sampai 7 tahun.
Namun, dalam dua tahun terakhir, segalanya berubah. H. Ridwan Mukti, yang dipercaya menjadi Bupati Musi Rawas sejak September 2005, bagaikan sang pangeran yang sanggup membangunkan putri dari tidur panjangnya. Lelaki yang lama malang melintang sebagai profesional di sebuah perusahaan besar, kemudian terjun ke ranah politik hingga sempat menjadi Anggota DPR RI ini, tahu betul bagaimana memanfaatkan kekayaan sumberdaya alam Musi Rawas, hingga menjadi faktor pemicu perkembangan ekonomi kabupaten tersebut.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan Ridwan, adalah membuka akses daerah-daerah terisolir, melalui pembangunan infrastruktur terutama berupa jalan dari perbatasan. Jaringan irigasi pun di tambah, terutama untuk daerah-daerah yang memiliki potensi pertanian dan perkebunan.
Pembangunan infrastruktur tersebut, terbukti memiliki multiplier effect. Selain mampu mendinamisir aktivitas ekonomi masyarakat setempat, juga menarik minat para investor. Terlebih, infrastruktur vital lain seperti pembangkit listrik, jaringan rel kereta api, terminal petikemas bahkan bandar udara (bandara) untuk penerbangan komersial, juga sedang disiapkan.
Dengan pengalamannya sebagai profesional di perusahaan swasta besar, Ridwan paham betul kebutuhan para investor. Seluruh jajaran aparat terkait, setiap saat siap melayani secara profesional dan bersih. Musi Rawas mendapat apresiasi tinggi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), atas inisiatifnya memancangkan Deklarasi Percepatan Pemberantasan Korupsi. Apresiasi itu langsung disampaikan Ketua KPK Taufiequlrachman Ruki, saat melalukan kunjungan dalam rangka review pelaksanaan deklarasi. Musi Rawas juga menjamin rasa aman bagi siapapun yang mau menanamkan investasinya. Rasa aman, memang menjadi kebutuhan investor yang kerap sulit dipenuhi, terutama jika bisnisnya beroperasi di daerah pelosok. “Itu lazim terjadi, kalau masyarakat sekitar tidak disiapkan,” ujar Ridwan Mukti. Karena itu, simultan dengan terobosan di bidang ekonomi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Rawas juga gencar melakukan upaya menyangkut peningkatan sumberdaya manusia (SDM), antara lain melalui pendidikan. Dengan kualitas SDM yang terus meningkat, Musi Rawas juga bisa sekaligus menyediakan tenaga kerja yang dibutuhkan investor. Tapi, tentu saja, masyarakat setempat juga diberi peluang untuk menjadi pelaku bisnis, sesuai dengan kemampuannya. “Paling tidak, untuk usaha skala kecil dan menengah, kita bantu bahkan diberikan semacam proteksi untuk jangka waktu tertentu, agar kelak benar-benar siap bersaing dengan pengusaha sejenis yang datang dari luar,” tutur Ridwan Mukti. Lagi pula, dengan dibukanya akses daerah-daerah yang sebelumnya terisolasi, masyarakat setempat sudah langsung terdorong untuk melakukan aktivitas bisnis. Paling tidak, mereka menjadi makin mudah untuk menjual berbagai komoditinya ke luar. Di luar itu, Pemkab juga melancarkan berbagai program lain untuk mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat, termasuk layanan kesehatan. Pemkab menjamin, upaya untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan mengundang investor, tidak akan meminggirkan ekonomi masyarakat setempat. “Justru harus saling bersinergi,” tandas Ridwan. Potensi Seksi Pembangunan infratruktur yang berjalan simultan dengan langkah peningkatan keualitas SDM serta kesejahteraan rakyat setempat, jelas bakal membuat Musi Rawas sebagai wilayah yang paling seksi untuk berinvestasi berskala industri, karena potensi sumberdaya alamnya yang melimpah. Di sektor perkebunan, komoditi sawit menjadi salah satu andalan. Sedikitnya sudah ada tujuh perusahaan perkebunan besar swasta (PBS) yang bermain di sawit. Dari sisi penguasaan lahan, yang terbesar adalah PT Dendi Maker Indah Lestari (17.793,5 hektar) dan PT London Sumatera (13.698 hektar). Namun, peringkat itu akan terus berubah, karena setiap perusahaan sudah bersiap memperluas lahannya. Misalnya, PT Dwi Wira Mulia Utama, sudah mendapat izin lokasi seluas 20 ribu hektar. Hutan Musi Rawas yang membentang hingga 631.104 hektar, sebagian bisa dimanfaatkan sebagai hutan industri. Ada tujuh jenis kayu bulat yang menjadi andalan. Industri pulp juga bisa memperoleh pasokan bahan baku yang melimpah. Tapi, tentu saja Pemkab Musi Rawas sangat berhati-hati dalam memanfaatkan hutan untuk industri tersebut. Pemeliharaan melalui hutan lindung dan konservasi, menjadi perhatian utama. Pemkab juga gencar menjalankan program yang mengusung tema, “Kecil Menanam, Besar Memanen”, yang pelaksanaannya dinilai baik oleh Menteri Kehutanan MS. Ka’ban. Potensi lain yang membuat Musi Rawas kian seksi, tentu saja sektor pertambangan. Sektor ini bahkan diperhitungkan bakal menjadi salah satu roket pendorong paling penting, dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi Musi Rawas. Beberapa perusahaan energi telah melakukan pengeboran di areal yang mengandung minyak dan gas (migas). Di antaranya PT Pertamina, PT Medco E & P Indonesia, PT Petro China Int’L Bangko, PT Seleraya Merangin II dan PT Tropik Energi Pandan. Di seantero Sumatera Selatan, potensi minyak Musi Rawas masuk peringkat dua terbesar di antara delapan kabupaten lain. Potensi gasnya juga berada di tiga besar dari 15 kabupaten yang memiliki potensi serupa. Sebetulnya, kegiatan eksplorasi migas di Musi Rawas sudah berlangsung sejak jaman penjajahan Belanda. Namun, setelah itu, kegiatan tersebut tidak dilakukan secara maksimal. Masih di sektor pertambangan, tanah Musi Rawas juga menyimpan potensi batu bara yang sangat besar. Cadangannya saat ini, mencapai 1,235 miliar ton, dengan nilai kalori 5.000 sampai 6.000 kal/gel dan ketebalan 0,5 sampai 30 meter. Kandungan batu bara tersebar di Kecamatan Muara Kelingi, Muara Lakitan dan Rawas Ilir. Emas, perak, biji besi, dan timah hitam, juga merupakan potensi pertambangan yang siap dieksplorasi. Masih banyak lagi kekayaan yang terbenam di Bumi “Lan Serasan Sekentenan”. Mulai dari marmer, fosfat, batu gamping, sampai andesit dan pasir. Pemkab Musi Rawas menjamin, hasil eksplorasi kekayaan SDA tersebut, bakal banyak dinikmati daerah dan masyarakat sekitar. “Jaminan ini penting, agar masyarakat mendukung setiap investor yang melakukan eksplorasi,” ujar Ridwan Mukti. Agropolitan Kendati memiliki potensi hutan dan pertambangan yang melimpah, Musi Rawas tidak menumpukan seluruh upayanya untuk mengembangkan dua sektor tersebut. Sektor pertanian, termasuk subsektor tanaman pangan (padi), juga mendapat perhatian sama seriusnya. Bahkan, Pemkab Musi Rawas yang dipimpin duet Bupati Ridwan Mukti dengan Wakil Bupati Hj. Ratnawati Ibnu Amin, sudah menancapkan visi “meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian daerah berbasisi agraris”, untuk periode kepemimpinannya, 2005 sampai 2010. Lagi pula, selain kekayaan hutan dan tambang, Musi Rawas juga merupakan lahan subur bagi tumbuhnya padi. Bukan sekadar angan, jika daerah ini kelak akan menjadi lumbung beras bagi Sumsel. Kalau untuk kebutuhan sendiri, sejak 1981 Musi Rawas sudah menyandang predikat swasembada beras. Langkah strategis yang dilakukan untuk menggenjot produksi beras, antara lain pembangunan jaringan irigasi secara besar-besaran, baik berupa perbaikan yang sudah ada maupun membangun jaringan baru. Selain untuk mendukung sektor agribisnis, jaringan irigasi juga menjadi sarana transportasi, bahkan pengembangan bidang komoditi perikanan. Kendati upaya ini masih berjalan, namun hasilnya sudah kelihatan. Pada 2006, produksi padi di Musi Rawas mencapai 236.886 ton, setara dengan produktivitas 4.186 ton per hektarnya. Angka itu merupakan gabungan produksi padi sawah sebanyak 211.555 ton, dan padi gogo 25.331 ton. Produktivitas padi sawah yang didukung jaringan irigasi, tercatat 4.727 ton per hektar, sedangkan padi gogo 2.149 ton per hektar. Selain padi, hasil panen berupa palawija dan holtikultura juga cukup tinggi. Untuk palawija mencapai 13.135 ton atau 4.230 ton per hektar, sedangkan holtikultura mencetak angka 51.794 ton, atau 3.414 ton per hektarnya. Secara keseluruhan, upaya pengembangan sektor pertanian dan perkebunan Musi Rawas, dibingkai dalam sebuah program besar bernama agropolitan center. Ini adalah sebuah konsep yang memperkenalkan penerapan teknologi pada sektor pertanian, hingga berkembang menjadi sebuah industri pertanian yang terintegrasi. Di sini, sektor pertanian digarap dari hulu sampai hilir. Sebagai langkah awal, agropolitan center pertama dipusatkan di Kecamatan Muara Beliti, yang selanjutnya akan dikembangkan di daerah lain berdasarkan distrik. Untuk menunjang agropolitan center, kehadiran prasarana dan sarana seperti terminal peti kemas dan lapangan udara, mutlak diperlukan. “Kami akan segera mewujudkannya,” tandas Ridwan Mukti, pasti. http://www.majalah-pip.com/majalah2008/readstory.php?cR=1214656666&pID=22&stID=1068
|